TAJUK REDAKSI | Lima ratus tiga puluh enam butir ekstasi. Angka itu bukan sekadar barang bukti. Ia adalah simbol bahwa racun telah menemukan jalan masuk ke ruang-ruang yang seharusnya menjadi benteng negara. Ketika seorang aparatur negara diduga ikut terseret dalam pusaran peredaran narkotika, yang runtuh bukan hanya nama seseorang, tetapi kepercayaan publik terhadap institusi yang dibangun dengan uang dan harapan rakyat.
Namun, lebih berbahaya daripada narkotika adalah matinya kepedulian.
Bangsa tidak pernah runtuh hanya karena korupsi. Negara tidak hancur hanya karena narkoba. Peradaban musnah ketika orang-orang baik memilih diam, ketika masyarakat menganggap kerusakan sebagai sesuatu yang biasa, dan ketika para pemimpin lebih sibuk menjaga citra daripada menyelamatkan masa depan.
Hari ini, rakyat menyaksikan korupsi yang terus berulang. Penyalahgunaan kekuasaan seolah menjadi berita harian. Penegakan hukum dipertanyakan. Narkotika menyusup ke lingkungan yang mestinya menjadi teladan. Pertanyaannya sederhana: siapa yang masih menjaga negeri ini?
Jika energi para pemimpin lebih banyak dihabiskan untuk politik pencitraan, perebutan pengaruh, atau sekadar membangun hubungan transaksional dengan aparat melalui berbagai fasilitas dan hibah, sementara persoalan kemiskinan, pendidikan, moral generasi muda, dan narkotika berkembang tanpa kendali, maka yang sedang dibangun bukan masa depan, melainkan jalan menuju kemunduran.
Filsuf Yunani Plato pernah mengingatkan:
“The price good men pay for indifference to public affairs is to be ruled by evil men.”
“Harga yang harus dibayar oleh orang-orang baik karena tidak peduli pada urusan publik adalah dipimpin oleh orang-orang yang buruk.”
Pesan itu melintasi ribuan tahun dan tetap relevan hingga hari ini.
Sejarah juga memberikan pelajaran yang sama. Kekaisaran Romawi, yang pernah menguasai hampir separuh dunia, perlahan runtuh bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi karena korupsi, kemerosotan moral, lemahnya penegakan hukum, dan hilangnya rasa memiliki terhadap negara. Peradaban besar Maya pun lenyap ketika krisis sosial, politik, dan lingkungan tidak lagi dihadapi dengan kebersamaan.
Bangsa Indonesia sendiri lahir bukan karena rakyat saling membenci, melainkan karena mereka saling peduli. Para pendiri bangsa mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa, agar negeri ini berdiri. Mereka tidak bertanya, “Apa untungnya bagiku?” Mereka bertanya, “Apa yang bisa kulakukan untuk Indonesia?”
Kini pertanyaan itu kembali kepada kita.
Apakah kita akan menjadi generasi yang membiarkan narkoba merusak anak-anak kita?
Apakah kita akan diam melihat korupsi menggerogoti uang rakyat?
Apakah kita akan terus menormalisasi ketidakadilan hanya karena merasa itu bukan urusan kita?
Jangan pernah lupa, negara bukan hanya milik presiden, gubernur, bupati, polisi, jaksa, hakim, atau pejabat. Negara ini adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Menjaganya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi kewajiban moral setiap warga negara.
Kejahatan tumbuh ketika kepedulian mati.
Korupsi berkembang ketika masyarakat menyerah.
Narkotika berjaya ketika lingkungan memilih diam.
Sudah saatnya rakyat berhenti menjadi penonton. Kepedulian harus dihidupkan kembali, keberanian menyuarakan kebenaran harus dipulihkan, dan hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Sebab jika kita semua memilih diam hari ini, jangan salahkan sejarah apabila kelak anak cucu bertanya:
“Di mana kalian ketika negeri ini perlahan kehilangan arah?”
Karena sesungguhnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh seberapa besar rakyatnya masih peduli.
🪶 http://fikiranrajat.id























Discussion about this post