JAMBI — Polemik proyek pemeliharaan kebun di lingkungan PTPN Regional 4 Jambi kini mulai membuka lapisan yang lebih dalam. Setelah pengakuan sejumlah pekerja soal dugaan tekanan kerja dan ancaman SP, kini sorotan mengarah pada pola penggunaan vendor yang disebut berlangsung bertahun-tahun.
Nama CV Jambi Transparan (JT) disebut terus muncul dalam berbagai pekerjaan operasional perusahaan perkebunan negara tersebut.
Mulai dari:
▪️pekerjaan penebasan gulma,
▪️pemeliharaan kebun,
▪️hingga armada angkutan tandan buah segar (TBS).
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius:
mengapa vendor yang sama terus digunakan dalam banyak lini pekerjaan?
“Vendor Hanya Menang Tender?”
FikiranRajat.id memperoleh pengakuan pekerja yang menyebut pola kerja vendor selama ini dinilai janggal.
Menurut sumber, skema awalnya terlihat normal:
▪️perusahaan membuka tender,
▪️vendor menang,
▪️lalu vendor menjalankan pekerjaan.
Namun di lapangan disebut berbeda.
“Yang terjadi selama ini, vendor cuma menang tender. Setelah itu pekerjaan semua ditimpahkan ke kebun,” ungkap salah satu sumber.
Jika pengakuan itu benar, maka muncul dugaan:
▪️vendor hanya administratif,
▪️sementara pelaksanaan kerja justru menggunakan sumber daya internal perusahaan.
Padahal secara prinsip pemborongan kerja, vendor seharusnya:
✒️menyediakan tenaga kerja
✒️ menyediakan alat kerja
✒️ menjalankan operasional
✒️ bertanggung jawab atas keselamatan pekerja.
Anggaran Rp150 Ribu per Hektar, Pekerja Mengaku Terima Rp60 Ribu
Pengakuan pekerja juga menyinggung soal besaran anggaran pekerjaan penebasan gulma.
Disebutkan, nilai pekerjaan bisa mencapai sekitar Rp150 ribu per hektar. Namun pekerja di lapangan mengaku nilai yang mereka terima jauh di bawah angka tersebut.
“Sampai ke kebun tinggal sekitar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per hektar, kita kalau ngak mau cari tenaga kerja kita harus kerjakan ,kalau ambil tenaga masyarakat mana mau harga segitu mereka biasa harga 600-700/ha” ujar sumber.
Selisih nilai itu kini menjadi sorotan.
Karena jika:
▪️pekerja berasal dari internal perusahaan,
▪️alat dan pengawasan dilakukan kebun,
▪️tetapi vendor tetap menerima pembayaran penuh,
maka publik wajar mempertanyakan:
apa fungsi nyata vendor dalam pekerjaan tersebut?
Dugaan Ekosistem Vendor Tertutup
FikiranRajat.id juga memperoleh informasi bahwa CV JT disebut telah bertahun-tahun bekerja sama dengan lingkungan PTPN.
Pola penggunaan vendor yang terus berulang itu memunculkan dugaan adanya:
▪️vendor dominan,
▪️relasi kuat dengan internal,
▪️hingga kemungkinan ekosistem bisnis tertutup.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan pendalaman lebih lanjut
Sorotan Baru: Armada TBS dan Dugaan Penggunaan BBM
Tak hanya soal tenaga kerja, sumber juga menyinggung operasional armada pengangkutan TBS yang disebut berkaitan dengan vendor.
Publik kini mulai mempertanyakan:
▪️apakah armada operasional menggunakan BBM industri sebagaimana mestinya?
▪️atau justru memakai solar non-industri untuk menekan biaya operasional?
Jika benar terdapat penggunaan BBM yang tidak sesuai peruntukan dalam kegiatan operasional skala besar, maka persoalan ini berpotensi meluas menjadi isu tata kelola perusahaan negara.
Pekerja Menanggung Risiko, Vendor Menikmati Proyek?
Sebelumnya, FikiranRajat.id telah mengungkap pengakuan pekerja yang mengaku mengalami luka serius saat melakukan penebasan gulma hingga harus mendapatkan perawatan.
Korban disebut merupakan karyawan tetap perusahaan yang mengaku tetap diminta bekerja melakukan penebasan bahkan setelah menyelesaikan pekerjaan utama.
Situasi itu memunculkan pertanyaan yang semakin tajam:
siapa sebenarnya yang memikul beban kerja dan risiko di lapangan?
Karena jika:
▪️tenaga dari internal,
▪️risiko ditanggung pekerja,
▪️sementara vendor hanya menerima pembayaran proyek,
maka publik akan sulit mengabaikan dugaan adanya praktik yang tidak sehat dalam sistem kerja tersebut.
Konfirmasi Disiapkan
FikiranRajat.id tengah menyiapkan konfirmasi resmi kepada pihak:
▪️CV Jambi Transparan,
▪️manajemen PTPN Regional 4,
▪️serta pihak terkait lainnya,
guna meminta penjelasan terkait:
▪️mekanisme kerja vendor,
▪️penggunaan tenaga internal,
▪️sistem pembayaran,
▪️perlindungan pekerja,
▪️hingga operasional armada.
Redaksi menegaskan pemberitaan ini dilakukan demi kepentingan publik dan transparansi tata kelola perusahaan negara.
BERSAMBUNG EPISODE 3:
“Ancaman SP dan Pengakuan Pekerja: Dugaan Tekanan Sistematis di Balik Proyek Vendor PTPN Regional 4”























Discussion about this post