Kerinci — Bau tak sedap dari proyek-proyek sumber daya air di bawah Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi mulai menyeruak ke permukaan. Tim investigasi [FikiranRajat.id](https://fikiranrajat.id?utm_source=chatgpt.com) menemukan pola janggal yang diduga melibatkan pengemasan ulang pekerjaan, tumpang tindih nomenklatur proyek, hingga munculnya dokumen kesiapan setelah pekerjaan fisik berjalan.
Pola ini tidak berdiri sendiri. Dari penelusuran data SPSE, dokumen pengadaan, papan proyek lapangan, hingga uraian teknis pekerjaan, sejumlah paket di Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh justru memperlihatkan keterkaitan yang sulit dianggap kebetulan.
Yang paling mengundang tanda tanya adalah proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Siulak Deras Kabupaten Kerinci tahun anggaran 2025.
Di sistem negara, paket tersebut tercatat berstatus:
“Tender Gagal”.
Alasannya jelas: tidak ada peserta yang lulus evaluasi.
Namun anehnya, di lapangan justru telah berdiri papan proyek lengkap dengan:
▪️nomor kontrak,
▪️nilai pekerjaan Rp12,1 miliar,
▪️serta nama kontraktor pelaksana.
Pertanyaan publik sederhana:
bagaimana kontrak fisik bisa terbit untuk paket yang oleh sistem negara sendiri dinyatakan gagal?
Keanehan tidak berhenti di sana.
Saat legalitas tender fisik dipertanyakan, paket pengawasan proyek justru tetap berjalan dan bahkan telah memiliki pemenang dengan nilai mencapai Rp847 juta.
Artinya: negara mengontrak pengawas untuk mengawasi pekerjaan yang legalitas tender fisiknya justru dipersoalkan.
Belum selesai.
Pada tahun 2026, BWSS VI kembali memunculkan paket baru:
“Penyusunan Dokumen Kesiapan Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Siulak Deras”
dengan nilai fantastis mencapai Rp2,3 miliar lebih.
Di titik inilah aroma kekacauan tata kelola mulai terasa menyengat.
Karena dalam logika teknik konstruksi sumber daya air, dokumen kesiapan seharusnya lahir sebelum pekerjaan fisik dilaksanakan — bukan justru muncul setelah kontrak, pengawasan, dan aktivitas proyek berjalan.
Publik pun mulai bertanya:
proyek sebelumnya dibangun berdasarkan dokumen apa?
Apakah pekerjaan fisik lebih dulu berjalan lalu administrasi menyusul?
Ataukah ada pengulangan penganggaran pada objek yang sama?
Penelusuran FikiranRajat.id kemudian menemukan fakta lain yang tak kalah mengusik.
Pada tahun anggaran 2026, muncul dua paket besar lain:
✒️Pembangunan Tanggul dan Normalisasi Sungai Batang Merao senilai Rp15,2 miliar,
✒️serta Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kabupaten Kerinci senilai Rp11,4 miliar.
Sekilas namanya berbeda.
Namun ketika uraian pekerjaan dibuka, pola teknisnya mulai memperlihatkan kemiripan:
✒️bronjong,
✒️retaining wall,
✒️penguatan tebing,
✒️normalisasi aliran,
✒️hingga pekerjaan pengendalian sungai.
Semuanya berada dalam kawasan hidrologi yang sama: Kerinci dan Sungai Penuh.
Di sinilah dugaan publik mulai mengarah pada pola yang lebih serius:
apakah pekerjaan-pekerjaan ini benar-benar berbeda? atau hanya dikemas ulang dengan nomenklatur berbeda agar terlihat sebagai proyek terpisah?
Sebab dalam praktik proyek SDA, istilah:
▪️normalisasi sungai,
▪️pengendalian banjir,
▪️pengamanan tebing,
▪️bronjong,
▪️dan retaining wall
sering kali hanyalah variasi bahasa untuk pekerjaan fisik pada segmen sungai yang sama.
Jika nantinya ditemukan:
▪️titik koordinat yang beririsan,
▪️volume pekerjaan yang tumpang tindih,
▪️atau desain teknis yang identik,
maka persoalannya bukan lagi sekadar administrasi kacau.
Tetapi bisa berkembang menjadi dugaan:
✒️split package,
✒️fragmentasi anggaran,
✒️overlap pekerjaan,
hingga potensi penganggaran berulang pada objek fisik yang sama.
Tim investigasi FikiranRajat.id telah melayangkan konfirmasi resmi kepada PPK Irigasi dan Rawa III BWSS VI Jambi terkait seluruh rangkaian temuan tersebut.
Hingga berita ini disusun, redaksi masih menunggu penjelasan resmi terkait:
✒️dasar hukum kontrak proyek tender gagal,
✒️hubungan antar paket,
✒️titik koordinat pekerjaan,
✒️serta alasan munculnya dokumen kesiapan setelah proyek fisik berjalan.
Karena semakin dalam dokumen dibuka, semakin terlihat bahwa persoalan ini mungkin jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan.
Redaksi 24526
🪶 http://fikiranrajat.id























Discussion about this post