“Apa yang kita lakukan hari ini akan bergema dalam keabadian.”
— Marcus Aurelius
MUARO JAMBI – Tulisan ini bukan lahir dari kebencian. Tulisan ini lahir dari kegelisahan seorang warga yang masih percaya bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kemuliaan yang melekat selamanya.
Berbulan-bulan pertanyaan disampaikan. Berulang kali konfirmasi diajukan. Dokumen demi dokumen dipelajari. Lapangan demi lapangan didatangi. Namun hingga hari ini, jawaban yang ditunggu dari pemimpin daerah belum juga datang.
Padahal seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya pujian yang diterima, melainkan dari keberaniannya menjawab pertanyaan rakyat yang paling sulit sekalipun.
Dalam perjalanan panjang menelusuri berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik, ada satu pelajaran yang semakin terasa nyata: rakyat kecil sering kali tidak memiliki kekuasaan, tetapi mereka memiliki ingatan.
Kekuasaan dapat mengatur ruang. Kekuasaan dapat mengatur protokol. Kekuasaan bahkan dapat memilih kepada siapa jawaban diberikan dan kepada siapa pertanyaan diabaikan. Namun kekuasaan tidak pernah mampu menghapus catatan sejarah.
Sejarah mencatat bukan hanya apa yang dilakukan seorang pemimpin, tetapi juga apa yang sengaja tidak dilakukan.
Socrates pernah mengingatkan bahwa kehidupan yang tidak pernah diperiksa adalah kehidupan yang tidak layak dijalani. Dalam konteks kepemimpinan, kekuasaan yang tidak pernah mau mengoreksi dirinya sendiri perlahan akan kehilangan makna keberadaannya.
Karena itu izinkan kami menyampaikan satu pesan sederhana kepada Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno.
Jika seorang pemimpin mulai membutakan matanya terhadap kebenaran, menutup telinganya terhadap suara wong cilik, dan hanya membuka ruang bagi suara yang menyenangkan dirinya, maka sesungguhnya ia sedang berjalan menuju kesadaran yang terlambat.
Rakyat mungkin bisa diabaikan.
Pertanyaan mungkin bisa tidak dijawab.
Kritik mungkin bisa dianggap gangguan.
Namun catatan perbuatan tidak pernah hilang.
Dalam filsafat kehidupan ada satu kenyataan yang tidak pernah gagal mendatangi manusia: ketiadaan.
Suatu hari jabatan akan berakhir.
Suatu hari ruang protokoler akan menjadi sepi.
Suatu hari atribut kekuasaan akan dilepas.
Suatu hari manusia akan kembali menjadi dirinya sendiri tanpa pengawal, tanpa panggung, tanpa penghormatan.
Dan pada saat itu, yang tersisa bukan lagi gelar, bukan lagi kursi, bukan lagi kekuasaan.
Yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana:
“Apakah selama memimpin saya sudah berlaku adil?”
Karena di hadapan manusia mungkin masih ada ruang untuk beralasan.
Tetapi di hadapan Tuhan tidak ada dokumen yang bisa disembunyikan, tidak ada jabatan yang dapat melindungi, dan tidak ada kekuasaan yang dapat menjadi pembela.
Kami tidak meminta lebih.
Kami hanya meminta agar suara rakyat didengar.
Karena pemimpin sejati bukanlah mereka yang dihormati ketika berkuasa, melainkan mereka yang tetap dikenang baik ketika kekuasaannya telah tiada.
Muaro Jambi akan mengingat setiap keputusan.
Rakyat akan mengingat setiap sikap.
Dan sejarah akan menulis siapa yang memilih berdiri bersama kebenaran, serta siapa yang memilih berpaling darinya.
Sebab pada akhirnya, jabatan berakhir dengan keputusan manusia.
Tetapi pertanggungjawaban berakhir di hadapan Tuhan.
Dan ketika seorang pemimpin tidak lagi mendengar suara wong cilik, sesungguhnya bukan rakyat yang kehilangan pemimpinnya.
Pemimpin itulah yang perlahan kehilangan alasan mengapa ia diberi kekuasaan.
“Rakyat mungkin bisa diabaikan hari ini, tetapi sejarah tidak pernah lupa, dan Tuhan tidak pernah lalai.”























Discussion about this post