Tajuk Rencana | Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang seharusnya menjadi ruang refleksi bagi dunia pendidikan justru tercoreng oleh peristiwa yang melibatkan oknum pejabat kampus di Jambi. Kejadian ini menjadi tamparan keras, tidak hanya bagi institusi yang bersangkutan, tetapi juga bagi wajah pendidikan secara keseluruhan.
Seorang figur yang semestinya menjadi teladan—baik secara moral maupun intelektual—justru terseret dalam kasus yang memicu kegaduhan publik dan dugaan pelanggaran etik serius. Dalam posisi sebagai pendidik sekaligus pejabat kampus, standar integritas, tanggung jawab sosial, dan etika seharusnya berada pada tingkat tertinggi.
Kasus ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan pribadi semata. Ada dimensi yang lebih luas yang harus menjadi perhatian bersama, yakni:
▪️Relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa
▪️Etika akademik dalam lingkungan pendidikan tinggi
▪️Perlindungan terhadap perempuan di lingkungan kampus
Dalam konteks ini, publik berhak menuntut kejelasan, transparansi, dan akuntabilitas dari semua pihak terkait.
Desakan Tindakan Tegas
Situasi ini menuntut langkah nyata dan terukur.
Beberapa hal yang harus segera dilakukan antara lain:
▪️Pihak kampus memastikan proses pemeriksaan etik berjalan secara transparan dan akuntabel
▪️Aparat penegak hukum memberikan kejelasan atas status dan penanganan peristiwa
▪️Lembaga terkait, termasuk Komnas Perempuan, memastikan perlindungan terhadap pihak perempuan yang terdampak, tanpa stigma dan tanpa tekanan
Langkah-langkah ini penting bukan hanya untuk menyelesaikan kasus, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik.
Menjaga Martabat Dunia Pendidikan
Hardiknas seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai luhur pendidikan: integritas, keteladanan, dan tanggung jawab moral. Namun ketika peristiwa seperti ini terjadi, yang dipertaruhkan bukan sekadar nama individu.
Yang dipertaruhkan adalah marwah institusi pendidikan itu sendiri.
Jika dunia pendidikan gagal menjaga integritas internalnya, maka dampaknya akan meluas—merusak kepercayaan publik dan melemahkan fondasi moral generasi mendatang.
Pendidikan tidak hanya soal ilmu, tetapi juga soal teladan.
Dan ketika teladan runtuh, maka yang harus ditegakkan adalah kebenaran.
/Fikiranrajat.id























Discussion about this post