JAMBI, FIKIRANRAJAT.ID – Setelah proyek Gedung Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Jambi disorot karena belum dapat digunakan meski menyerap anggaran sekitar Rp 88,7 miliar, penelusuran lanjutan mengarah pada struktur angka pengadaan yang menimbulkan tanda tanya.
PAGU BESAR, KONTRAK JAUH DI BAWAH
Pada tahun anggaran 2022:
▪️Pagu: Rp 57.757.990.000
▪️HPS: sekitar Rp 29,7 miliar
▪️Nilai kontrak: sekitar Rp 23,7 miliar
👉 Terdapat selisih signifikan antara pagu dengan nilai kontrak.
Secara prinsip pengadaan, efisiensi merupakan hal yang wajar. Namun, selisih yang terlalu besar dapat memunculkan pertanyaan terkait:
▪️ketepatan perencanaan anggaran awal
▪️akurasi penyusunan HPS
▪️serta kesesuaian spesifikasi pekerjaan
2023–2024: LANJUTAN TANPA GAMBAR UTUH
▪️2023: proyek lanjutan sekitar Rp 29,3 miliar
▪️2024: hanya tercatat Rp 1,6 miliar (jasa konsultansi)
Namun pekerjaan fisik belum selesai hingga kini.
👉 Artinya:
▪️proyek berjalan multi-tahun
▪️tetapi tidak menunjukkan progres yang sebanding dengan total anggaran
PROYEK BELUM SELESAI, ANGGARAN SUDAH BESAR
Dengan total sekitar Rp 88,7 miliar yang telah dialokasikan:
👉 bangunan masih sekitar 50%
👉 belum dapat digunakan sama sekali
Kondisi ini memunculkan pertanyaan:
▪️Apakah anggaran telah digunakan secara efektif?
▪️Apakah terdapat ketidaksesuaian antara biaya dan progres fisik?
POTENSI INEFISIENSI ANGGARAN
Jika dibandingkan:
▪️anggaran besar telah terserap
▪️progres fisik masih terbatas
Maka muncul indikasi awal adanya:
👉 potensi inefisiensi dalam penggunaan anggaran
👉 atau ketidaktepatan perencanaan proyek
Namun hal ini tetap memerlukan audit dan verifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang.
ALASAN RESMI: KETERBATASAN ANGGARAN
Pihak Poltekkes menyampaikan bahwa:
▪️proyek terhambat kondisi keuangan negara
▪️tahun 2025 tidak terdapat kegiatan
▪️penyelesaian ditargetkan pada 2026
Namun demikian, alasan tersebut belum menjawab:
▪️mengapa proyek dimulai tanpa kepastian pendanaan hingga selesai
▪️serta bagaimana pengelolaan anggaran yang telah digunakan sebelumnya
Dari sisi angka, publik kini menyoroti:
▪️Mengapa selisih pagu dan kontrak begitu besar di awal proyek?
▪️Apakah perencanaan anggaran telah dilakukan secara akurat?
▪️Mengapa proyek belum selesai meski anggaran besar telah digelontorkan?
▪️Apakah terdapat ketidakseimbangan antara biaya dan progres fisik?
Analisis angka dalam proyek ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan dan pelaksanaan anggaran.
Jika tidak, proyek bernilai puluhan miliar ini berisiko menjadi contoh bagaimana anggaran besar tidak berbanding lurus dengan hasil di lapangan.
FikiranRajat.id akan terus menelusuri perkembangan dan membuka data lanjutan terkait proyek ini.























Discussion about this post