FIKIRANRAJAT.ID | Mahasiswa bukan dilahirkan untuk menjadi figuran kekuasaan.
Mahasiswa lahir dari tradisi berpikir, tradisi kritik, dan tradisi perjuangan yang panjang. Karena itu, setiap aktivis mahasiswa wajib memahami sejarah pergerakan, nilai-nilai perjuangan, serta tanggung jawab moral yang melekat pada dirinya sebelum berteriak di jalanan atau berfoto dengan penuh sensasi.
Idealisme bukan sekadar slogan.
Ia adalah kompas yang membedakan seorang pejuang dengan seorang pencari keuntungan.
Hari ini, yang paling mengkhawatirkan bukanlah sedikitnya mahasiswa yang turun ke jalan. Yang mengkhawatirkan adalah ketika perjuangan mulai kehilangan arah, ketika suara kritis berubah menjadi alat tawar-menawar, dan ketika gerakan mahasiswa lebih sibuk mengejar panggung daripada memperjuangkan kepentingan rakyat.
Menjadi aktivis bukan soal atribut.
Bukan soal kedekatan dengan pejabat.
Bukan pula soal seberapa sering wajah tampil dalam dokumentasi kegiatan.
Menjadi aktivis berarti memiliki keberanian untuk berpihak kepada kebenaran, sekalipun harus berhadapan dengan mereka yang memiliki kekuasaan.
Sejarah mencatat bahwa perubahan besar di negeri ini lahir dari keberanian gagasan, bukan dari kenyamanan posisi.
Karena itu, jangan sampai sejarah panjang perjuangan mahasiswa ditukar dengan kepentingan sesaat.
Jangan gadaikan idealisme demi jabatan.
Jangan jual suara rakyat demi kepentingan pribadi.
Jangan tukarkan keberanian dengan fasilitas.
Dan jangan pernah menggadaikan narasimu demi sesuap nasi.
Ingatlah, generasi muda selalu menjadi harapan terakhir ketika kekuasaan mulai kehilangan kepekaan terhadap rakyat. Ketika mahasiswa berhenti kritis, maka ruang pengawasan terhadap kekuasaan akan semakin sempit.
“Ketika idealisme dijual, maka mahasiswa kehilangan alasan untuk disebut pejuang. Sejarah tidak pernah mencatat siapa yang paling dekat dengan kekuasaan, tetapi siapa yang tetap berdiri bersama rakyat.”
Wahai pemuda, bacalah sejarahmu.
Pahami tugasmu.
Jiwai perjuanganmu.
Karena ketika idealisme mati, mahasiswa hanya akan menjadi penonton di negeri yang seharusnya ia selamatkan.
Perjuangan sejati tidak diukur dari seberapa dekat dengan kekuasaan, melainkan seberapa kuat mempertahankan keberpihakan kepada rakyat.























Discussion about this post