Tajuk Redaksi FikiranRajat.id
FIKIRANRAJAT.ID | Pada 12 Juni, seorang tua yang saya panggil Eyang Kliwon berpulang meninggalkan dunia. Ia tidak meninggalkan rumah mewah, tidak pula mewariskan kekayaan yang dapat dibagi kepada anak cucunya. Namun ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pemikiran.
Beberapa waktu sebelum kepergiannya, beliau menyerahkan kepada saya sebuah buku tua berjudul Fikiran Ra’jat. Buku itu kini tampak kusam dimakan usia. Sudut-sudutnya telah rapuh. Kertasnya menguning. Namun bagi saya, nilainya tidak dapat diukur dengan uang.
Dari buku itulah lahir nama media yang hari ini kami perjuangkan bersama: FikiranRajat.id.
Saya tidak pernah menganggap nama itu sebagai sekadar identitas media. Nama itu adalah amanah. Sebuah pengingat bahwa pers harus tetap berpihak kepada pikiran rakyat, suara rakyat, dan kepentingan rakyat.
Setelah kepergian beliau, saya kembali membuka catatan yang pernah dititipkannya. Tulisan sederhana yang dahulu mungkin hanya saya baca sepintas, kini terasa seperti pesan yang sengaja ditinggalkan untuk direnungkan.
Beliau menulis:
“Aku tidak begitu memikirkan benda-benda duniawi seperti uang. Hanya orang-orang yang tidak makan apinya nasionalismelah yang selalu memikirkan hal biasa seperti itu.”
“Nasionalisme adalah hidupku. Ideologi dan idealisme adalah makanan daripada jiwaku. Inilah semua yang kumakan.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di dalamnya terdapat pandangan hidup yang sangat dalam. Bahwa manusia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda yang ia miliki. Bahwa hidup yang hanya mengejar materi akan kehilangan arah ketika materi itu hilang.
Beliau melanjutkan:
“Aku sendiri hidup dalam serba kekurangan.”
Kalimat itu bukan keluhan. Bukan pula ratapan. Sebaliknya, ia adalah pengakuan jujur dari seseorang yang memahami keterbatasannya, namun tidak membiarkan keterbatasan itu mematikan cita-citanya.
Karena setelah itu beliau menulis:
“Akan tetapi apa salahnya jika aku kembali mendayungkan perahuku dan rakyatku ke pulau harapan baru.”
Bagi saya, inilah inti seluruh tulisan tersebut.
Perahu adalah perjuangan.
Rakyat adalah tujuan.
Dan pulau harapan adalah masa depan yang lebih baik.
Dalam kalimat itu saya melihat sosok yang tidak menyerah kepada keadaan. Sosok yang meskipun hidup dalam kekurangan, tetap ingin berguna bagi orang lain. Tetap ingin mengantar masyarakat menuju harapan.
Lalu beliau menutupnya dengan kalimat yang hingga hari ini terus terngiang di benak saya:
“Untuk itulah aku hidup.”
Betapa sederhana, namun begitu kuat.
Beliau tidak mengatakan hidup untuk kekuasaan.
Beliau tidak mengatakan hidup untuk kemewahan.
Beliau tidak mengatakan hidup untuk pujian.
Beliau hanya mengatakan bahwa hidup adalah pengabdian.
Pengabdian kepada sesama manusia.
Pengabdian kepada rakyat.
Dan pada akhirnya pengabdian kepada Tuhan.
Hal itu tampak dalam kalimat beliau yang lain:
“Orang belum dapat dikatakan mengabdi kepada Tuhannya sebelum dia mengabdi kepada sesama manusia, karena Tuhan bersamanya di gubuknya.”
Pesan itu mengingatkan kita bahwa nilai kemanusiaan tidak boleh dipisahkan dari nilai ketuhanan. Bahwa ibadah yang sejati bukan hanya hubungan dengan langit, tetapi juga kepedulian terhadap mereka yang hidup di bumi.
Beliau kemudian menuliskan satu renungan yang sangat tua dalam tradisi kebijaksanaan manusia:
“Barang siapa mengenal dirinya, dia pasti mengenal Tuhannya.”
Dan beliau menambahkan:
“Barang siapa mengenal Tuhannya, dia pasti merasa bodoh.”
Mungkin inilah puncak pelajaran yang ingin beliau tinggalkan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia sadar bahwa pengetahuannya sangat terbatas. Semakin dekat ia kepada Tuhan, semakin kecil ia melihat dirinya sendiri.
Hari ini Eyang Kliwon telah tiada.
Namun buku tua Fikiran Ra’jat masih ada.
Tulisan tangannya masih ada.
Pesan-pesannya masih ada.
Dan selama FikiranRajat.id masih berdiri, selama media ini masih berusaha berpihak kepada kepentingan rakyat, selama keberanian untuk menyuarakan kebenaran tidak padam, maka warisan pemikiran itu tidak akan pernah mati.
Kami sadar bahwa jalan idealisme tidak selalu mudah. Kadang sunyi. Kadang melelahkan. Kadang harus berhadapan dengan berbagai kepentingan.
Namun setiap kali keraguan datang, saya kembali teringat pada pesan sederhana itu:
“Apa salahnya jika aku kembali mendayungkan perahuku dan rakyatku ke pulau harapan baru.”
Maka selama tenaga masih ada, selama pena masih dapat menulis, dan selama kebenaran masih layak diperjuangkan, perahu itu akan terus kami dayung.
Sebab sesungguhnya, media yang besar bukanlah media yang paling kaya.
Media yang besar adalah media yang tetap memiliki jiwa.
Dan jiwa itu, bagi kami, bernama Fikiran Ra’jat.
REDAKSI 13 JUNI 2026
🪶 http://fikiranrajat.id
Oleh: Abdul Mutalib, SH Pimpinan Redaksi FikiranRajat.id
























Discussion about this post