JAMBI – Di tengah tumpukan laporan masyarakat yang belum menemukan ujung, Ketua DPD PPWI Provinsi Jambi, Abdul Muthalib, S.H., kembali mempertanyakan keseriusan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi dalam menindaklanjuti berbagai dugaan korupsi yang selama ini menjadi perhatian publik.
Bagi Abdul Muthalib, persoalan utama hari ini bukan lagi soal banyaknya laporan yang masuk ke meja aparat penegak hukum. Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana laporan tersebut berakhir. Apakah benar-benar ditindaklanjuti hingga tuntas atau hanya berputar dari satu meja ke meja lainnya hingga perlahan dilupakan waktu.
“Rakyat tidak butuh janji. Rakyat tidak butuh pidato. Rakyat butuh bukti. Tunjukkan satu saja kerja nyata yang benar-benar bisa dilihat dan dirasakan masyarakat,” tegas Abdul Muthalib.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan.
Selama bertahun-tahun berbagai laporan dugaan penyimpangan anggaran, dugaan korupsi proyek pemerintah, dana desa, perambahan hutan hingga persoalan penyalahgunaan subsidi telah disampaikan masyarakat kepada aparat penegak hukum.
Sebagian laporan bahkan dilengkapi dokumen, hasil investigasi lapangan, hingga data pendukung yang cukup untuk menjadi pintu masuk penyelidikan lebih lanjut.
Namun dalam pandangan masyarakat, terlalu banyak laporan yang berjalan lambat dan tidak memberikan kepastian yang jelas.
KEHADIRAN NEGARA DIUJI
Menurut Abdul Muthalib, masyarakat tidak sedang meminta perlakuan istimewa.
Masyarakat hanya meminta negara hadir melalui tindakan nyata.
“Kalau rakyat sudah berani melapor, sudah berani membuka data, sudah berani menunjukkan dugaan kerugian negara, maka negara juga harus menunjukkan keberpihakannya kepada kepentingan rakyat. Jangan biarkan kepercayaan itu mati karena terlalu lama menunggu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan bentuk permusuhan terhadap institusi kejaksaan.
Sebaliknya, kritik tersebut lahir karena masih adanya harapan agar Kejati Jambi mampu menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam menangani perkara-perkara yang menyangkut kepentingan publik.
JANGAN HANYA KEJAR IKAN KECIL
Abdul Muthalib juga mengingatkan bahwa masyarakat saat ini semakin kritis.
Publik tidak lagi hanya melihat berapa banyak konferensi pers yang digelar atau berapa banyak kegiatan seremonial yang dipublikasikan.
Yang ingin dilihat masyarakat adalah keberanian aparat dalam menyentuh aktor-aktor besar yang diduga menikmati uang rakyat.
“Jangan hanya ikan kecil yang ditangkap. Rakyat ingin melihat keberanian menyentuh siapa pun yang terlibat, tanpa melihat jabatan, kekuasaan, maupun pengaruhnya,” katanya.
Menurutnya, ukuran keberhasilan penegakan hukum bukan pada banyaknya slogan pemberantasan korupsi, melainkan pada sejauh mana uang rakyat berhasil diselamatkan dan pelaku penyimpangan diproses sesuai hukum.
SEJARAH AKAN MENILAI
Di akhir pernyataannya, Abdul Muthalib mengingatkan bahwa setiap pemegang jabatan pada akhirnya akan dinilai oleh sejarah.
Jabatan akan berakhir.
Kekuasaan akan berganti.
Tetapi jejak pengabdian akan tetap dikenang.
“Suatu hari masyarakat akan mengingat siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyat dan siapa yang hanya sibuk menjaga citra. Sejarah selalu jujur. Sejarah tidak pernah bisa dibohongi,” ujarnya.
Kini publik menunggu.
Menunggu apakah Kejati Jambi akan menjawab pertanyaan masyarakat dengan tindakan nyata atau membiarkan berbagai laporan terus menggantung tanpa kepastian.
Karena pada akhirnya, sebagaimana yang disuarakan rakyat hari ini:
Keadilan tidak diukur dari janji yang diucapkan, melainkan dari keberanian untuk menegakkannya.
Pewarta : Tim FikiranRajat.id
Editor : Abdul Muthalib, S.H.
FIKIRANRAJAT.ID | Suara yang Tak Dibeli, Nurani yang Tak Disewakan























Discussion about this post